Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tumbuhan

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan :

A. Faktor Internal

B. Faktor Eksternal

A.Faktor Internal

Faktor Internal dipicu oleh serangkaian proses yang terjadi di dalam sel, seperti pembelahan,pemanjangan dan diferensiasi. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan adalah sebagai berikut : 
Auksin : Sebagai pemicu pembelahan dan pemanjangan sel serta mempengaruhi pembentukan pucuk atau tunas baru dan jaringan yang luka. 
Giberlin : Berperan dalam dominansi apikal,pemanjangann sel, perkembangan buah dan mobilisasi cadangan makanan dari dalam biji serta berpengaruh terhadap pembentukan akar. 
Sitokinin : Berperan dalam pembelahan sel, pemanjangan sel, morfogenesis, dominansi apikal dan dormansi. 

Asam Absisat : Berperan dalam penuaan, dormansi pucuk, perbungaan, memacu sintesis etilen dan menghambat pengaruh giberlin. 
Etilen : Menghambat pembelahan sel, menunda perbungaan dan mengakibatkan absisi (gugur daun). 


B. Faktor Eksternal

1. Air : Merupakan faktor utama pertumbuhan karena tanpa adanya air, proses pertumbuhan tidak akan terjadi.

2. Nutrisi : Semua makhluk hidup memerlukan nitrisi (makanan) sebagai sumber energi.

3. Suhu : Pada suhu rendah proses imbibisi akan lebih cepat pada pertumbuhan tahap awal.

4. Cahaya : Biji yang ditanam dan ditempatkan ditempat teduh akan cepat tumbuh tetapi abnormal.

DISPLAY PRODUK PERTANIAN

DISPLAY PRODUK PERTANIAN

1. Pendahuluan

Praktikum Dasar Budidaya Tanaman yang berbobot 1 SKS diharapkan akan mampu memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam membentuk profil lulusan, khususnya di bidang pertanian. Pada materi praktikum ini akan digali potensi dan kreatifitas mahasiswa yang kemungkinan dapat dikembangkan dalam penelitian lebih lanjut atau pengabdian kepada masyarakat.

Display atau Pameran Produk Pertanian merupakan rangkaian kegiatan dalam praktikum Dasar Budidaya tanaman yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memamerkan ide-ide, kreatifitas atau keterampilannya yang terkait dengan proses produksi pertanian (mulai tanam hingga panen dan pasca panen). Dengan demikian, praktikan diarahkan untuk memiliki keberanian dan kemampuan untuk memulai berpartisipasi menangani masalah atau menemukan ide baru dalam proses produksi pertanian.


2. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk memacu dan mengembangkan ide serta daya kreatifitas mahasiswa terhadap proses produksi pertanian (mulai tanam hingga panen dan pasca panen). Selanjutnya mahasiswa dapat mengembangkan idenya dalam forum yang lebih luas.


3. Pelaksanaan

a. Bentuk kelompok, selanjutnya tentukan tema. Dalam kegiatan ini, praktikan dipersilakan diskusi dengan asisten masing-masing.

b. Setiap kelompok hanya diberikan kesempatan untuk memamerkan satu ide/tema, tetapi boleh lebih dari satu komoditi, namun tetap dalam satu tema.

c. Susun ide menjadi satu alur pemikiran yang jelas.

d. Siapkan materi yang akan dipamerkan. Waktu pajang hanya 3 (tiga) hari. Setelah itu produk boleh dijual atau dibagi.

e. Selama waktu pajang berlangsung, tim juri akan melakukan penilaian.

f. Setiap kelompok yang berpartisipasi dalam kegiatan ini akan mendapat nilai, bagi kelompok yang tidak berpartisipasi tidak mendapat nilai (kosong).

g. Tiga (3) kelompok yang mendapat skor nilai tertinggi akan mendapatkan reward.

Setiap kelompok akan mendapatkan subsidi dana praktikum.

KEBIJAKAN DI BIDANG PERTANIAN

KEBIJAKAN PERTANIAN

Kebijakan pertanian adalah serangkaian tindakan yang telah, sedang dan akan dilaksanakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun tujuan umum kebijakan pertanian kita adalah memajukan pertanian, mengusahakan agar pertanian menjadi lebih produktif, produksi dan efisiensi produksi naik dan akibatnya tingkat penghidupan dan kesejahteraan petani meningkat. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, pemerintah baik di pusat maupun di daerah mengeluarkan peraturan-peraturan tertentu; ada yang berbentuk Undang-undang, Peraturan-peraturan Pemerintah, Kepres, Kepmen, keputusan Gubernur dan lain-lain. Peraturan ini dapat dibagi menjadi dua kebijakan-kebijakan yang bersifat pengatur (regulating policies) dan pembagian pendapatan yang lebih adil merata (distributive policies). Kebijakan yang bersifat pengaturan misalnya peraturan rayoneering dalam perdagangan/distribusi pupuk sedangkan contoh peraturan yang sifatnya mengatur pembagian pendapatan adalah penentuan harga kopra minimum yang berlaku sejak tahun 1969 di daerah-daerah kopra di Sulawesi.

Persoalan yang selalu tidak mudah diatasi adalah persoalan keadilan. Hampir setiap kebijakan jarang akan disambut dengan baik oleh semua pihak. Selau ada saja pihak yang memperoleh manfaat lebih besar dari pihak lainnya dan bahkan ada yang dirugikan. Itulah sebabnya masalah kebijakan pertanian bukanlah terletak pada banyak sedikitnya campur tangan pemerintah, tetapi pada berhasil tidaknya kebijakan itu mencapai sasarannya dengan sekaligus mencari keadilan bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu kebijakan pertanian yang lebih baik adalah yang dapat mencapai tujuan nasional untuk menaikkan produksi secara optimal dengan perlakuan yang adil pada pihak-pihak yang bersangkutan itu.


1. Kebijakan Harga

Kebijakan ini merupakan salah satu kebijakan yang terpenting di banyak negara dan biasanya digabung dengan kebijakan pendapatan sehingga disebut kebijakan harga dan pendapatan (price and economic policy). Segi harga dari kebijakan itu bertujuan untuk mengadakan stabilitas harga, sedangkan segi pendapatannya bertujuan agar pendapatan petani tidak terlalu berfluktuasi dari musim ke musim dan dari tahun ke tahun. Kebijakan harga dapat mengandung pemberian penyangga (support) atas harga-harga hasil pertanian supaya tidak terlalu merugikan petani atau langsung mengandung sejumlah subsidi tertentu bagi petani. Di banyak negara seperti; Amerika Serikat, Jepang, dan Australia banyak sekali hasil pertanian seperti gandum, kapas, padi, dan gula yang mendapat perlindungan pemerintah berupa harga penyangga dan atau subsidi. Indonesia baru mulai mempraktekkan kebijakan harga untuk beberapa hasil pertanian sejak tahun 1969. Secara teoritis kebijakan harga yang dapat dipakai untuk mencapai tiga tujuan yaitu:
stabilitas harga hasil-hasil pertanian terutama pada tingkat petani
meningkatkan pendapatan petani melalui pebaikan dasar tukar (term of trade)
memberikan arah dan petunjuk pada jumlah produksi.

Kebijakan harga di Indonesia terutama ditekankan pada tujuan pertama yaitu Stabilitas harga hasil-hasil pertanian dalam keadaan harga-harga umum yang stabil berarti pula terjadi kestabilan pendapatan. Tujuan yang kedua banyak sekali dilaksanakan pada hasil-hasil pertanian di negara-negara yang sudah maju dengan alasan pokok pendapatan rata-rata sektor pertanian terlau rendah dibandingkan dengan penghasilan di luar sektor pertanian.

Tujuan yang kedua ini sulit untuk dilaksanakan di negara-negara yang jumlah petaninya berjuta-juta dan terlalu kecil-kecil seperti di Indonesia karena persoalan administrasinya sangat kompleks. Pada prinsipnya kebijakan harga yang demikian ini merupakan usaha memindahkan pendapatan dari golongan bukan pertanian ke golongan pertanian, sehingga hal ini bisa dilaksanakan dengan mudah di negara-negara yang sudah maju dan kaya, dimana golongan penduduk di luar pertanian jumlahnya jauh lebih besar dengan pendapatan lebih tinggi dibanding golongan penduduk pertanian. Di negara-negara ini penduduk sektor pertanian rata-rata di bawah 10 persen dari seluruh penduduk, sedangkan di negara kita masih antara 60 persen-70 persen.

Tujuan kebijakan yang ketiga dalam praktek sering dilaksanakan oleh negara-negara yang sudah maju bersamaan dengan tujuan kedua yaitu dalam bentuk pembatasan jumlah produksi dengan pembayaran kompensasi. Berdasarkan ramalan harga, pemerintah membuat perencanaan produksi dan petani mendapat pembayaran kompensasi untuk setiap kegiatan produksi yang diistirahatkan. Di negara kita, dimana hasil-hasil pertanian pada umumnya belum mencukupi kebutuhan, maka kebijakan yang demikian tidak relevan. Selain kebijakan harga yang menyangkut hasil-hasil pertanian, peningkatan pendapatan petani dapat dicapai dengan pemberian subsidi pada harga sarana-sarana produksi seperti pupuk/insektisida. Subsidi ini mempunyai pengaruh untuk menurunkan biaya produksi yang dalam teori ekonomi berarti menggeser kurva penawaran ke atas.

2. Kebijakan Pemasaran 

Di samping kebijakan harga untuk melindungi petani produsen, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan khusus dalam kelembagaan perdagangan dengan tujuan yang sama, tetapi dengan tekanan pada perubahan mata rantai pemasaran dari produsen ke konsumen, dengan tujuan utama untuk memperkuat daya saing petani. Di negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Kenya apa yang dikenal dengan nama Badan Pemasaran Pusat (Central Marketing Board) berusaha untuk mengurangi pengaruh fluktuasi harga pasar dunia atas penghasilan petani. Badan pemasaran ini sangat berhasil di Inggris yang dimulai sesudah depresi besar tahun 1930 untuk industri bulu domba, susu, telor dan kentang. Di Indonesia Badan Pengurusan Kopra, Badan Pemasaran Lada pada prinsipnya mempunyai tujuan yang sama dengan Badan pemasaran Pusat di Afrika dan Inggris.

Masalah yang dihadapi di Indoensia adalah kurangnya kegairahan berproduksi pada tingkat petani, tidak ada keinginan untuk mengadakan penanaman baru dan usaha-usaha lain untuk menaikkan produksi karena persentase harga yang diterima oleh petani relatif kecil dibandingkan dengan bagian yang diterima golongan-golongan lain.

Selain kebijakan pemasaran hasil-hasil tanaman perdagangan untuk ekspor, kebijakan ini meliputi pula pengaturan distribusi sarana-sarana produksi bagi petani. Pemerintah berusaha menciptakan persaingan yang sehat di antara para pedagang dengan melayani kebutuhan petani seperti pupuk, insektisida, pestisida dan lain-lain sehingga petani akan dapat membeli sarana-sarana produksi tersebut dengan harga yang relatif tidak terlalu tinggi. Jadi disini jelas bahwa kebijakan pemasaran merupakan usaha campur tangan pemerintah dalam bekerjanya kekuatan-kekuatan pasar. Di satu pihak pemerintah dapat mengurangi pengaruh kekuatan-kekuatan pasar supaya tidak terlalu merugikan pedagang dan petani, tetapi di pihak lain persaingan dapat didorong untuk mencapai efisiensi ekonomi yang tinggi. Dalam praktek kebijakan pemasaran dilaksanakan secara bersamaan dengan kebijakan harga.

3. Kebijakan Struktural

Kebijakan struktural dalam pertanian dimaksudkan untuk memperbaiki strukutur produksi misalnya luas pemilikan tanah, pengenalan dan pengusahaan alat-alat pertanian yang baru dan perbaikan prasarana pertanian pada umumnya baik prasarana fisik maupun sosial ekonomi.

Kebijakan struktural ini hanya dapat terlaksana dengan kerjasama yang erat dari beberapa lembaga pemerintah. Perubahan struktur yang dimaksud disini tidak mudah untuk mencapainya dan biasanya memakan waktu lama. Hal ini disebabkan sifat usahatani yang tidak saja merupakan unit usaha ekonomi tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan petani dengan segala aspeknya. Oleh karena itu tindakan ekonomi saja tidak akan mampu mendorong perubahan struktural dalam sektor pertanian sebagaimana dapat dilaksanakan dengan lebih mudah pada sektor industri. Pengenalan baru dengan penyuluhan-penyuluhan yang intensif merupakan satu contoh dari kebijakan ini. Kebijakan pemasaran yang telah disebutkan di atas sebenarnya dimaksudkan pula untuk mempercepat proses perubahan struktural di sektor pertanian dalam komoditi-komoditi pertanian. Pada bidang produksi dan tataniaga kopra, lada, karet, cengkeh dan lain-lain. Dalam kenyataannya pelaksanaan kebijakan harga, pemasaran dan struktural tidak dapat dipisahkan, dan ketiganya saling melengkapi.

4. Kebijakan Pertanian dan Industri 

Ciri-ciri pokok perbedaan antara pertanian dan industri adalah:
Produksi pertanian kurang pasti dan risikonya besar karena tergantung pada alam yang kebanyakannya di luar kekuasaan manusia untuk mengontrolnya, sedangkan industri tidak demikian.
Pertanian memproduksi bahan-bahan makanan pokok dan bahan-bahan mentah yang dengan kemajuan ekonomi dan kenaikan tingkat hidup manusia permintaannya tidak akan naik seperti pada permintaan atas barang-barang industri
Pertanian adalah bidang usaha dimana tidak hanya faktor-faktor ekonomi saja yang menentukan tetapi juga faktor-faktor sosiologi, kebiasaan dan lain-lain memegang peranan penting. Industri lebih bersifat lugas (zakelijk).

Ketiga ciri khusus pertanian ini nampak dalam teori ekonomi sebagai perbedaan dalam respons permintaan dan penawaran atas perubahan-perubahan harga.


Elatisitas harga atas permintaan dan penawaran hasil-hasil pertanian jauh lebih kecil daripada hasil-hasil industri. Misalnya elastisitas harga atas permintaan radio, buku-buku, mobil dan lain-lain, jauh lebih tinggi daripada elatisitas harga atas permintaan beras dan bahan pakaian. Hal ini disebabkan pendapatan sektor industri pada umumnya lebih tinggi daripada pendapatan sektor pertanian maka elastisitas pendapatan atas permintaan barang-barang hasil industri lebih besar daripada atas bahan makanan pokok.

5. Pendapatan Penduduk Desa dan Kota

Perbedaan kebijakan antar sektor pertanian dan industri dapat dilihat pula dalam keperluan akan kebijakan yang berbeda antara penduduk kota dan penduduk desa. Perbedaan pendapatan antara penduduk kota dan penduduk pedesaan adalah sedemikian rupa sehingga mempunyai akibat dalam pola pengeluaran konsumsi dan perilaku ekonomi lain-lainnya.

Ada tiga hal yang meyebabkan rata-rata pendapatan penduduk kota lebih tinggi dibanding penduduk desa yaitu:
kestabilan dan kemantapan pendapatan penduduk kota lebih besar dibanding pendapatan penduduk desa
lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan yang dapat mendorong kegiatan ekonomi di kota lebih banyak dibandingkan di desa
lebih banyaknya fasilitas pendidikan dan kesehatan di kota yang memungkinkan rata-rata produktivitas tenaga kerja di kota lebih tinggi.

Salah satu upaya untuk mengurangi perbedaan pendapatan ini adalah dengan menambah persediaan modal di desa serta mengurangi jumlah tenaga kerja di pedesaan dan diserap bagi lapangan industri di kota-kota. Dengan lebih banyaknya investasi di desa misalnya dalam alat-alat pertanian yang lebih modern, huller , traktor dan juga dalam pembangunan-pembangunan prasarana fisik seperti jembatan-jembatan baru, bendungan irigasi dan lain-lain maka timbul adanya keperluan akan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Seorang petani yang mengerjakan sawah dengan bajak atau traktor dalam waktu yang sama akan mampu menyelesaikan luas sawah yang lebih besar daripada petani lain yang hanya menggunakan cangkul. Beberapa faktor yang menjadi penyebabnya adalah:
Adanya tambahan modal yang berupa pajak dan ternak serta mesin traktor pada petani pertama
Adanya keahlian dan keterampilan khusus yang diperlukan oleh petani yang menjalankan bajak atau traktor itu.

Kedua unsur inilah yang menimbulkan perbedaan produktivitas tenaga kerja.

Tanaman Pakan Toleran Pada Tanah Salin

Tanaman Pakan Toleran Pada Tanah Salin

Kelebihan suatu unsur pada media tumbuh tanaman dapat mengganggu pertumbuhan melalui : kompetisi dengan unsur esensial lain dalam penyerapan, menonaktifkan enzim, mengantikan unsur-unsur esensial dari tempat berfungsinya atau mengubah struktur air (Marschner, 1986). Oleh karena itu agar tanaman toleran terhadap kelebihan NaCl pada media tumbuhnya, harus mengurangi absorbsi ion Na dan atau ion Cl oleh akar atau mempunyai berbagai cara menetralkan (buffer) pengaruh NaCl dilingkungan perakaran atau setelah diserap tanaman. 

Morfologi dan fisiologi toksisitas cekaman NaCl pada tanaman tampak pada reduksi pertumbuhan akar (Kusmiyati et al., 2000), penurunan serapan unsur hara (Sopandie, 1990 dan Kusmiyati et al 2000), dan perubaan struktur tanaman seperti reduksi ukuran daun dan jumlah stomata, penebalan kutikula daun dan terbentuknya lapisan lilin pada permukaan daun serta lignifikasi akar yang lebih awal (Harjadi dan Yahya, 1988). 

Perbaikan mutu genetik tanaman dapat dilakukan melalui introduksi galur-galur unggul, seleksi, persilangan dan manipulasi genetik. Di Indonesia, tanaman rumput pakan mempunyai kendala perbanyakan secara generatif karena kendala penyediaan benih fertil, sehingga sampai saat ini perbanyakan melalui cara vegetatif lebih banyak dilakukan. Oleh karena itu pada tanaman rumput pakan, maka perbaikan genetik yang memungkinkan adalah dengan introduksi, seleksi dan manipulasi tanamannya atau menggabungkan ketiganya.

Salah satu perbaikan mutu genetik tanaman rumput pakan yang telah dilakukan adalah melalui seleksi tanaman terhadap salinitas yang mewakili zona agroekosisten lahan pantai, dilanjutkan dengan penggandaan kromosom terhadap tanaman terpilih hasil seleksi (Anwar, Karno, Kusmiyati dan Sumarsono, 2003). Spesies hasil pengandaan kromosom atau tanaman poliploid mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan dibandingkan tanaman diploidnya akibat adanya penambahan alel pada sistem kromosomnya (Baataout, 1999).

Salah satu manipulasi lingkungan tumbuh tanaman rumput pakan yang telah dilakukan adalah melalui perbaikan kandungan bahan organik tanah pada kondisi salinitas yang mewakili zona agroekosisten lahan pantai (Sumarsono, Anwar dan Budianto 2005). Bahan organik di dalam tanah dapat berperan sumber unsur hara, memelihara kelembaban tanah, sebagai buffer dengan mengkhelat unsur-unsur penyebab salinitas sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara.

Tahapan Menuju Penerapan Pertanian Organik

Tahapan Menuju Penerapan Pertanian Organik

Melalui pemahaman prinsip-prinsip PHT dan analisa agroekosistem, petani mengetahui bahwa keadaan tanah merupakan faktor penting untuk kesehatan tanaman dan memungkinkan adanya keseimbangan dalam agroekosistem. Terdapat 4 prinsip yang harus dapat dipahami oleh para petani Alumni SLPHT agar mampu menerapkan PHT dilahannya, yaitu Budidaya tanaman sehat, pengamatan mingguan (rutin), pelestarian musuh alami dan petani sebagai ahli PHT.

Budidaya tanaman sehat merupakan langkah awal untuk meminimalkan serangan hama dan penyakit. Dengan asumsi bahwa jika tanaman telah tumbuh dengan sehat, maka tanaman memiliki kemampuan mempertahankan diri dari serangan hama maupun penyakit.

Budidaya tanaman sehat mencakup berbagai aspek mulai dari pra tanam hingga panen. Tanaman sehat dapat diperoleh jika bibit yang digunakan sehat, di tanam pada tanah yang sehat, penerapan cara budidaya yang baik dan didukung oleh lingkungan yang sehat.

Pengamatan merupakan bagian penting dalam budidaya apel. Dengan pengamatan, dapat diketahui pertumbuhan tanaman, keberadaan serangga hama dan musuh alaminya, intensitas serangan hama dan penyakit dan keadaan lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan tanaman, hama dan penyakit. Hasil pengamatan dianalisa dan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yaitu tindakan yang perlu dilakukan untuk melindungi tanaman agar dapat tumbuh sehat.

Pelestarian musuh alami merupakan kegiatan yang ditujukan untuk menjaga keberadaan dan kemampuan musuh alami dalam menjalankan fungsinya yaitu sebagai pengendali alami hama dan penyakit tanaman. Keberadaan musuh alami dipengaruhi oleh ketersediaan pakan dan lingkungan hidupnya. Musuh alami pada umumnya peka terhadap penggunaan pestisida. Oleh sebab itu, penggunaan pestisida harus menjadi alternatif terakhir jika seperangkat cara pengendalian yang lain tidak mampu mengendalikan populasi maupun intensitas serangan hama dan penyakit sesuai yang diharapkan.

Sebagai pengambil keputusan dalam usaha tani maka petani alumni SLPHT diharapkan sebagai “Ahli PHT” yaitu memiliki kemandirian dalam penerapan PHT dan sebagai pemilik PHT. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pengendalian hama dan penyakit merupakan bagian integral dari seluruh tahapan proses usahatani, dan tindakan pengendalian harus dilakukan sedioni mungkin, cepat dan tepat. 

Dengan pemahaman terhadap agroekosistem dan prinsip-prinsip PHT memudahkan bagi petani untuk merencanakan tahapan-tahapan menuju penerapan sistem pertanian organik. Beberapa tahapan yang telah dan akan dilaksanakan secara terus menerus adalah sebagai berikut :

a. Peningkatan Daya Dukung Lahan.

Pemberian pupuk organis adalah untuk meningkatkan kesuburan fisik, biologis dan kimiawi tanah. Fisik tanah yang remah dan dengan rongga tanah yang cukup sangat dibutuhkan oleh akar tanaman dan baik untuk tempat hidup mikroorghanisme tanah.

Kesuburan biologis yang cukup, akan menjamin ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan pengendalian penyakit perakaran oleh agens antagonis. Adanya kehidupan serangga pengurai dalam tanah sangat membantu dalam pelestarian musuh alami (sebagai pakan selain hama). 

Kesuburan kimiawi adalah tersedianya unsur hara tanaman dalam jumlah dan jenis yang cukup sesuai pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk organik yang tepat akan menyediakan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman baik dalam jumlah maupun jenisnya. Dosis pupuk organik yang dibutuhkan tanaman berdasarkan hasil uji tanah adalah 30 – 50 kg per pohon. Namun, sebagian besar petani masih memberikan pupuk organik dibawah 10 kg per tanaman.

b. Perbaikan kualitas tanaman.

Kegiatan ini ditujukan untuk mengganti cabang-cabang yang sudah tua dan ada kerusakan jaringan akibat penggunaan pestisida sistemik yang berlebihan maupun oleh faktor lain. Dengan adanya cabang baru yang sehat, diharapkan akan menghasilkan buah dan daun yang lebih baik. Pada keadaan tertentu, juga dilakukan pangkas pohon pokok (pangkas habis) pada tanaman apel yang batang pokoknya rusak akibat serangan penyakit. Kegiatan ini ternyata mampu menumbuhkan batang baru yang sehat dan lebih baik. Pada batang pohon yang mengalami kerusakan parah hingga ke akar tanaman, maka dilakukan pembongkaran untuk mencegah penularan penyakit dan untuk penjarangan pohon agar jarak tanamnya lebih baik.

c. Perbaikan kualitas kebun.

Apel membutuhkan ketersediaan air secara terus menerus, tetapi tidak tahan terhadap genangan air (air jenuh). Dalam kondisi daya serap tanah terhadap air rendah, sangat diperlukan adanya sistem irigasi yang baik untuk menjamin ketersediaan air. Saat ini, pada salah satu kebun telah ada rancang bangun sistem irigasi tetes yang dibuatkan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. 

Penyiangan kebun dilakukan untuk memanen hijauan sumber bahan organik sehingga tidak perlu dengan pencangkulan yang dalam maupun dengan herbisida. Sisakan sebagian gulma untuk penutup tanah, tempat hidup beberapa serangga dan mencegah erosi permukaan tanah. Penyiangan sebaiknya dilakukan dengan membabat gulma sebelum menghasilkan biji.

Untuk meningkatkan keragaman serangga dan sekaligus untuk melestarikan musuh alami dalam rangka menjaga keseimbangan agroekosistem perlu dilakukan penanaman beberapa tanaman non apel, baik sebagai penutup tanah, sumber bahan organik serta sebagai barier atau tanaman pagar.

d. Pemanfaatan dan pelestarian musuh alami

Salah satu faktor yang menyebabkan usahatani menjadi mahal dan tidak efisien adalah tidak adanya atau sangat rendahnya populasi musuh alami. Sehingga sangat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk menggantikan peran musuh alami dalam menekan populasi hama. Untuk memancing kehadiran seerangga dewasa musuh alami, perlu penanaman tanaman yang berbunga, namun perlu diperhitungkan kehadiran hama Thrips yang juga menyukai bunga.

Musuh alami secara umum lebih peka terhadap pestisida, oleh sebab itu dalam aplikasi pestisida (insektisida) lebih baik menggunakan yang berspektrum sempit dan jika diperlukan lakukan aplikasi spot-spot. Akan lebih baik jika menggunakan pestisida nabati dengan memanfaatkan tanaman yang ada. Pengendalian hama juga dapat dilakukan dengan cendawan entomopatogen yaitu Beauveria bassiana atau Metarhizium sp (keduanya telah dieksplorasi dari kebun apel). Untuk pengendalian penyakit digunakan bubur california (BC). Strategi penggunaan BC adalah dengan aplikasi dini berdasarkan suhu dan kelembaban serta arah angin, fase pertumbuhan tanaman dan serangan di kebun sekitar (sumber inokulum di hamparan). Hal ini perlu dilakukan karena keterlambatan aplikasi dapat mengakibatkan tidak efektifnya penggunaan BC dan belum adanya pengendali alami akibat penggunaan fungisida yang tinggi pada waktu yang lalu.

Pada tanah dengan kandungan bahan organik rendah, tanaman akan mudah terserang penyakit perakaran atau tular tanah. Oleh sebab itu, pemberian bahan organik sebaiknya ditambahkan mikroorganisme yang mampu mengendalikan serangan penyakit dan berfungsi sebagai perombak atau pengurai yang membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Mikroorganisme yang telah digunakan adalah Trichoderma sp (telah dieksplorasi dari kebun apel), Gliocladium sp dan Pseudomonas flourescens.